Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

buletin remaja Islam OASIS

ARTIKEL

Blog EntryJan 6, '08 7:24 PM
for everyone
           Si Boy lagi manyun. Sudut bibirnya turun 2 cm ke bawah. Pasalnya semalam abangnya menolak membawa Boy turut serta nonton film remaja terbaru di bioskop. “Kamu belum cukup umur, belum 17 tahun”, kilah si Abang menghadapi jurus rengekan Boy. Padahal Boy udah ngerasa dewasa. “Aku kan udah 14 tahun. Apalagi tinggiku hampir sama dengan abang yang umurnya 20 tahun” protesnya dalam hati. Huuuuh.
           Lain lagi ceritanya dengan Weni. Gadis 15 tahun ini ngebet banget sama tetangganya yang ganteng. “Kamu baru mama izinkan pacaran kalo udah 17 tahun, titik”, tegas mama ketika Weni mengutarakan maksudnya. Buyar deeeh.
          Sobat, diantara kamoe-kamoe pasti ada yang pernah ngalami kejadian seperti di atas. Hayo ngaku. Ya sobat, semua itu selalu dikaitkan dengan angka 17. Boleh ini itu mesti 17 dulu. Alasannya, Pak Polisi aja gak ngasi izin bikin SIM kalo belum 17 tahun (alasan pembenaran, hehehe). Bukan, bukan itu alasan sebenarnya. Karena kalo kamu udah 17 tahun, kamu udah dianggap dewasa, dianggap bisa mikir sendiri dan mestinya dapat bertanggungjawab terhadap tingkah lakumu. Begicu....
          Karena anggapan-anggapan seperti itulah, angka 17 menjadi angka keramat bagi remaja. Soalnya 17 jadi gerbang kebolehan untuk hal-hal yang sebelumnya tidak diperbolehkan ortu. Contohnya cerita di atas. Makanya mereka yang akan berumur 17 biasanya tidak ingin melewatkan momen tersebut. Salah satu caranya dengan merayakan momen itu secara meriah. Pesta Ultah Sweet Seventeen. Tul gak...?

Berubah Fisik dan Psikis
           Bagi kamu yang remaja, masa-masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Dalam rentang waktu itu, kamu banyak mengalami perubahan baik fisik maupun psikis. Namun perubahan yang dominan adalah perubahan fisik. Bahkan menurut Psikolog, pertumbuhan secara fisik merupakan proses primer. Sedangkan perubahan secara psikologis antara lain diakibatkan dari perubahan fisik tadi.
           Tubuh yang mulai tumbuh dan berubah membuat kamu merasa terkesan bahkan bisa merasa kaget sendiri. Bagi yang laki-laki suaranya mulai berubah menjadi tambah berat. Bulu-bulu bertabur di wajah, dada, ketiak dan sekitar alat vital. Otot-otot berkembang seiring pertambahan panjang tulang tubuh. Sedangkan bagi mereka yang perempuan, organ-organ reproduksi menjadi matang, kulit bertambah halus, dan bagian-bagian tubuh tumbuh menuju bentuk wanita dewasa. Nah, repot gak. Fisik kamu mencirikan orang dewasa, sementara secara emosi sepertinya belum tuh...
            Kalau tidak bijak menghadapi itu semua, bisa-bisa pertumbuhan yang normal ini menjadi masalah buat kamu. Kadang muncul rasa canggung dan minder. Kecanggungan yang terjadi terutama disebabkan  keharusan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan pada dirinya. Apalagi jika itu adalah perubahan yang mencolok. Pada laki-laki, mungkin ia akan merasa minder saat wajahnya sudah ditumbuhi bulu lebat sementara teman-teman disekitarnya masih berwajah mulus. Sedangkan wanita yang mendapat haid pertama mungkin akan kebingungan dengan apa yang terjadi pada dirinya. Sumber potensi masalah lainnya terletak pada gejolak yang muncul dari dalam. Fisik yang berkembang ternyata juga diikuti oleh tumbuhnya dorongan-dorongan yang menyertai akibat proses kimiawi dalam tubuh. Dorongan itu terutama adalah ketertarikan kepada lawan jenis yang amat kuat.  Kamu juga jadi mudah terangsang secara erotis. Nah, kalau ini tidak dikontrol secara hati-hati, bisa berabe urusannya. Masa depan bisa hancur.... Selain itu semua, ada lagi lainnya dan yang ini agak menyebalkan, yaitu kamu jadi agak egois. Kepekaannya berlebihan. Akibatnya orang dewasa susah untuk mengerti remaja, begitu juga sebaliknya. Ini yang kadang jadi biang sebab pertempuran, eh salah.... pertengkaran. Dalam keluarga, remaja juga berpotensi terlibat dalam konflik. Biasanya terjadi antara remaja dengan orang tuanya atau dengan anggota keluarga yang sudah dewasa. Di satu sisi remaja ingin menjadi mandiri namun di lain sisi mereka mesti mengikuti apa kata orang tua mereka. Apalagi tingkat ketergantungan terhadap ortu masih sangat tinggi.
             Kawan, semua perubahan diri seperti di atas akan kamu alami bahkan sebelum kamu 17 tahun. Jadi tidak mesti menunggu sweet seventeen dulu untuk menuju dewasa. Ada  yang umur 14 tahun sudah mimpi basah atau haid, yang berarti telah memasuki proses perubahan diri menuju kedewasaan. Nah, dalam Islam bagi yang telah mengalami “peristiwa mimpi basah” (ihtilam) ataupun haid maka mereka telah memasuki masa baligh.
Pintu itu adalah Baligh
           Kalo kamu merasa dewasa pada saat udah umur 17, telat tuh. Seperti udah kita bahas di atas bahwa fakta membuktikan kedewasaan fisik maupun psikis dapat datang sebelum itu. Walaupun tentu saja tingkat kedewasaan kamu akan terus bertambah seiring umur dan pengalaman. Jika kata dewasa biasanya disandingkan dengan tanggung jawab dan kewajiban, maka dalam konsep Islam ada pintu gerbang lain menuju hal tersebut. Tapi bukan umur yang mesti 17 tahun lho. Melainkan sesuatu yang dinamakan baligh. Hayo, apa itu. Pasti kamu udah sering dengar.
           Kata baligh sering disandingkan dengan kata ”akil”.  Nambah istilah lagi nih. Tapi gak papa, mari bahas satu persatu. Akil merupakan istilah untuk orang yang sudah mencapai tamyiz yaitu ukuran usia dimana seseorang dapat  membedakan baik dan buruk serta memiliki kemampuan nalar yang cukup dan normal. Dari pengertian ini, anak kecil dan orang idiot berarti tidak termasuk. Sedangkan baligh adalah istilah untuk orang yang sudah mulai sempurna organ seksual dan organ reproduksi. Pada laki-laki ditandai dengan mimpi basah yakni mekanisme keluarnya sperma secara ilmiah yang didahului dengan mimpi erotis. Sedangkan pada perempuan ditandai dengan haid pertama kali, istilahnya menarche. Jadi akil baligh bisa dikatakan periode dimana seseorang sudah matang secara fisik maupun fikiran menuju kedewasaan.
            Baligh dalam Islam sebenarnya merupakan konsep yang amat penting. Tapi sayang sering diremehkan. Kenapa penting?. Karena setelah baligh seorang muslim laki-laki atau perempuan telah dibebankan kewajiban syar'i. Rasulullah Saw pernah bersabda;
 “diangkat pena (tidak dikenakan kewajiban) pada tiga orang; orang yang tidur hingga bangun, anak kecil hingga ihtilam (keluar mani karena mimpi atau sebab lain) dan orang gila hingga berakal. HR. Abu Dawud. 
            Dapat dipahami disini, dimana masa setelah baligh merupakan detik dimana anak manusia dianggap layak dan mampu melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Dosa dan pahalapun sudah diperhitungkan. 
           Oleh karena itu sudah seharusnya orang yang akan akil baligh telah melengkapi dirinya dengan ilmu dan pengetahuan yang fardhu 'ain. Ia harus paham rukun iman dan rukun islam. Selain itu harus mengenal Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab, dan rasul-Nya. Harus tahu persoalan shalat, dapat membaca al-quran, berwudhu dan mensucikan najis. Dan juga mesti memahami tentang akhlak baik maupun buruk.
           Disinilah letak persoalan yang besar namun kerap dianggap remeh kebanyakan kaum muslimin sekarang. Sebelum baligh, seseorang mesti dipersiapkan pengetahuan-pengetahuan dan ilmu-ilmu yang nanti wajib dikerjakannya setelah baligh. Kemudian saat baligh ia tidak lagi mencari-cari tahu apa yang jadi kewajiban. Melainkan tinggal menjalankan kewajiban. Namun bukan berarti sebelum baligh seseorang tidak beramal apapun. Hanya saja, perhitungan pahala dan dosa bahkan sanksi secara hukum dimulai saat baligh tiba. Malah untuk persoalan sholat, Rasulullah Saw memerintahkan orang tua agar menyuruh anaknya yang telah berumur tujuh  tahun untuk sholat. Jika umur 10 tahun tidak mau sholat maka diperbolehkan untuk dipukul. Kaidah ini sebenarnya mengisyaratkan bahwa umur 10 tahun, segala hal yang berkaitan dengan sholat mesti telah selesai dipelajari. Dalam perintah sholat terkait dengan pengetahuan dan keterampilan lain sebagai pelengkap perintah sholat, antara lain; dapat membaca Alquran, dapat berwudhu dan bersuci dari najis. Hal yang wajib, sunnah serta rukun dan syarat sholat mestinya otomatis telah diketahui.
           Jika umur 10 tahun saja, ilmu kelengkapan bagi seorang muslim sudah seperti itu bagaimana kalo sudah baligh. Jangan bayangkan yang susah-susah ya. Hehehe. Tapi beneran lho, kalo kita udah baligh ilmu yang fardhu 'ain mesti dikuasai karena tugas kita adalah melaksanakan. Yang prioritas dikuasai adalah ilmu-ilmu mendasar dalam Islam. Tapi bukan berarti kita tidak belajar lagi setelah baligh, melainkan belajarnya sudah pada level yang lebih tinggi.
           Pantaslah pada masa kejayaan Islam, para pemuda Islam adalah pemuda yang berkualitas. Kepribadiannya dihiasai dengan ilmu yang mendalam karena sejak kecil telah dikondisikan dan dipersiapkan dengan baik oleh orang tuanya sesuai ajaran islam. Tidak hanya ilmu-ilmu agama lho, tapi zaman keemasan itu telah melahirkan ilmuwan-ilmuwan unggul dalam matematika, kimia astronomi dan kedokteran. Dalam ranah sosial dikenal ahli sosiologi, militer, ekonomi, perdagangan dan politik. Itu semua karena pengkondisian sejak kecil. Berbeda ya dengan kita sekarang. Orang-orang tua aja masih belajar tata cara sholat atau berwudhu yang benar. Padahal kan seharusnya udah kelar sebelum baligh. Gimana mau belajar ilmu yang levelnya lebih tinggi seperti mengatur ekonomi, cara berpolitik dan ber-pemerintahan, ataupun belajar sistem peradilan dalam Islam.
yang Muda yang Berkarya
          Last but not least, bagi kamu yang muda belajar udah jadi kewajiban. Tak ada kata terlambat. Karena menuntut ilmu itu dari buaian hingga ke liang kubur lho. Kalo udah baligh jangan lupa kewajiban. Ingat, pena yang nulis segala amal udah mulai jalan. Gak perlu lagi nunggu 17 tahun. Takutnya udah “terlambat”, hehehe bukannya doain. Soalnya kita gak tau kapan umur berlalu dan habis.
Umur 17 gak ada hubungannya dengan boleh tidaknya pacaran atau boleh ngerokok atau boleh nonton film 17+. Yang jadi ukuran boleh tidaknya adalah halal dan haram menurut Islam.
          Umurmu yang masih muda justru potensi untuk berkarya. Fisik masih dalam kondisi yang optimal. Semangat anak muda sudah jadi jaminan kuatnya tekad. Apalagi anak muda jiwanya kreatif, gak mau terkungkung. Sifat dasarnya agresif, dinamis, inovatif dan progresif (ngerti gak?hehe). Ini bukan sekedar manas-manasin anak muda. Sejarah mencatat bahwa kebangkitan umat memang tidak pernah lepas dari kiprah para pemudanya. Kalo gak percaya liat aja buku sejarah.
          Akan tetapi kemunculan pemuda-pemuda berkualitas tidaklah serta merta. Mereka lahir dari keluarga-keluarga yang memang mempersiapkan anak-anaknya dengan baik. Konsepnya dengan Islam. Selain itu, para pemuda juga dijaga oleh lingkungan. Lingkungan yang baik tentunya. Jika mulai menyimpang, maka akan ada teguran dan nasehat atau kalau perlu diberi sanksi. Dan kalau kita mengharapkan kemunculan generasi-generasi pemuda Islam yang bekualitas maka konsep lahirnya generasi tersebut  mestilah dari Islam.

Blog EntryNov 8, '07 8:44 PM
for everyone
         Sudah pernah dengar berita mengenai pemulung yang pesta putaw. Hiiii. Kalo orang kaya yang teler akibat ekstasi pasti udah sering dengar. Itulah kenyataan. Beberapa pemulung dan anak jalanan sekitar Tanah Abang di Jakarta terjerumus memakai putaw ditengah kesulitan hidup yang menghimpit (berita Kompas).

          Berita ini pasti bikin kamu geleng-geleng kepala (yang pasti bukan lagi tripping). Kalo nggak, ortumu yang akan ngurut dada. Pasalnya narkoba sudah tak kenal lapisan golongan. Dari orang kaya sampai yang bokek jadi penikmat barang berbahaya ini. Sudah banyak korban berjatuhan. Masih ingat kan, beberapa bulan yang lalu seorang penyanyi wanita terkenal meninggal akibat over dosis. Begitu juga yang masuk penjara gara-gara narkoba, jumlahnya tidak sedikit. Narkoba menyerang tidak pilih usia, jenis kelamin, wilayah, pangkat maupun jabatan. Semua habis, bis, bis. Namun yang paling memprihatinkan dan mengejutkan adalah kenyataan, bahwa urutan pertama pengguna Narkoba adalah Pelajar. Jumlahnya melebihi 15 ribu siswa (Tempo, 16 des 2006).ck..ck..ck
          Narkoba memang telah banyak merugikan bangsa ini. Tidak hanya materi, moril bahkan nyawa. Menurut data statistik setiap hari ada 40 orang yang meninggal akibat narkoba. Wuiiih..ngeri. keringat dinginmu pasti akan bertambah  banyak lagi jika menghitung mereka yang harus direhabilitasi di pusat-pusat rehabilitasi, yang dipenjara, yang hancur masa depannya, serta yang fungsi tubuh dan otaknya tidak dapat kembali seperti sedia kala. Belum lagi yang terjangkiti bermacam penyakit seperti HIV/AIDS. Lengkap sudah penderitaan.

Membuka pintu celaka

          Sekali mencoba, pasti tergoda. Bukan iklan neeh..Tapi beneran lho. Ketakutan bergaul dengan narkoba bukannya tanpa alasan. Apalagi ungkapan jatuh cinta... eh... jatuh terperosok pada cicipan pertama mampu membuatmu jadi fans berat narkoba. ceileee. Kenikmatan semu akan menggoda untuk mencoba dan mencoba lagi. Hingga akhirnya zat
adiktif  bekerja dengan “baik” menjadikanmu pecandu yang menghamba pada narkoba. Walau dalam sakaw kamu menderita, narkoba tetap kamu butuhkan. Uang pun terbang demi barang kejam itu.

           Kalo kamu sudah tergabung dalam jama'ah pengguna narkoba, siap-siap deh terkena salah satu efek berikut ini.

 Kehilangan kepercayaan diri, terganggu konsentrasi dan keterampilan hingga fungsi akal  yang menurun
 Pengguna morfin dapat menyebabkan kebingungan, pingsan, jantung berdebar-debar. perasaan gelisah dan terjadi perubahan suasana hati
 Tekanan daarah menurun. Tapi ada juga jenis narkoba seperti ekstasi yang justru membuat tensi meninggi sehingga terancam terkena stroke
 Membentuk dunia sendiri (dissosial) : tidak bersahabat
 Penyimpangan perilaku: berbohong, menipu, mencuri, kriminal
 Dorongan seksual yang besar, tapi pada kasus tertentu justru sebaliknya mengalami hambatan seksual
 Ekstasi menyebabkan penyempitan pembuluh darah perifer membuat pengguna merasa kedinginan dan kesemutan. Untuk itu ia harus menggoyangkan tubuhnya (tripping).
 Ketergantungan yang tinggi, resiko kematian akibat over dosis
 Rentan tertular HIV/AIDS akibat penggunaan jarum suntik
 Mengalami halusinasi; pada kasus yang ekstrim dapat menyebabkan seseorang membunuh atau bahkan bunuh diri

           Itu masih sedikit friend, baru dampak secara fisik pada pengguna narkoba. Secara ekonomi, selain bikin kantong cekak buat konsumsi, biaya yang dikeluarkan Pemerintah untuk pemberantasan Narkoba atau untuk merehabilitasi korban narkoba, menguras doku miliaran rupiah. Dari nangkapin penjahat, nyusun Undang-Undang, membentuk organisasi anti narkoba, penyuluhan dan subsidi obat-obatan bagi rehabilitasi korban narkoba. Berapa duit tuh.

           Dan celakanya, yang paling merugikan dari semua itu adalah kehilangan aset paling berharga dari umat ini yaitu generasi Islam yang berkualitas. Para pemuda yang seharusnya berada di barisan depan perjuangan dakwah Islam malah bertekuk lutut di depan Narkoba. Pemuda-pemuda yang berpotensi mengukir sejarah dengan prestasi-prestasi mengkilap justru sedang teler dan sakaw di jalanan. Masa depan terampas di depan mata mereka, dan kalaupun dapat disembuhkan fungsi tubuh dan otak tidak akan menjadi seperti sedia kala. Memprihatinkan ya...gimana coba kalo suatu saat generasi ini yang menggantikan memimpin dan mengelola umat karena sudah tidak ada orang lain lagi....serem bin mengerikan.

Narkoba Adalah Musuhmu

          Rasulullah SAW bersabda yang artinya: Segala yang mengacaukan akal dan memabukkan adalah haram” (HR. Imam Abu Dawud).
Ulama menyatakan bahwa hadis ini berlaku untuk segala macam benda yang merusak akal tanpa membedakan jenis dan bentuk (pil, bubuk, cairan, gas) maupun cara pemakaian (dihisap, diminum, suntik atau dimakan). Maka narkoba adalah haram dalam bentuk dan jenis apapun. Ingat itu... Sedangkan untuk para pelaku perbuatan haram ini, Islam menyatakan bahwa mereka akan diganjar hukuman. Tidak hanya pelaku, tapi juga pembuat, pengedar dan penjualnya.

          Masalah narkoba sudah menjalar kemana-mana. Penggunanya dari SD sampai pejabat. Dari yang kaya hingga yang miskin. Malah ada aparat yang tidak hanya jadi penikmat melainkan sekaligus jadi pengedar.weleh...weleh.. Kita seolah dikepung dari segala arah. Jaringan peredaran narkoba di Indonesia pun melibatkan sindikat internasional. Belum hilang ingatan kita pada kasus di Bali, beberapa orang Bule ditangkap sebagai pengedar dan dikenai tuntutan hukuman mati oleh  Hakim karena Narkoba yng dibawa amat banyak hingga memenuhi syarat untuk dijatuhi hukuman mati. Bulan oktober kemarin di Batam tertangkap lagi 7 orang penjahat narkoba yang beberapa diantaranya dari Taiwan. Tak cukup itu setahun sebelumnya  Indonesia dikejutkan dengan penggerebekan Pabrik narkoba terbesar ketiga dunia yang berlokasi di Kabupaten Serang Banten. “Prestasi terbesar ketiga“ sangat memalukan dan bikin gerah terutama bagi negeri dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia ini.
            Karena masalah narkoba yang akut kayak penyakit kanker stadium 4, penanggulangannya pun mesti dilakukan secara menyeluruh dan serius, tidak setengah-setengah. Pertama kita mesti melindungi diri sendiri dulu dengan baju anti peluru....upss salah, yang benar melindungi diri dengan ketakwaan. Dalam Islam, ketakwaan akan membentengimu dari berbagai macam serangan dahsyat. Karena begini bos, alasan orang terjerembab narkoba terutama pada remaja ternyata sangat sepele. Ada yang karena tidak pede lalu memanfaatkan narkoba untuk meningkatkan rasa percaya dirinya. Yang lucunya lagi  biar disebut jantan dan macho kalo sudah “kenal” narkoba. Inikan alasan orang yang gak punya pegangan hidup (nilai-nilai Islam), agar dibilang modern lah, untuk diterima dalam pergaulan lah, biar gak dibilang anak kecil lah. Friend, biar kata remaja kayak kamu memang lagi senang-senangnya nyoba  segala sesuatu, tapi barang ginian jangan pernah disentuh deh. Haram tau, catat tuh..
 
           Kedua, mesti ada kontrol dari keluarga dan masyarakat. Akibat dari penjagaan keluarga yang tidak efektif dan harmonis ditambah masyarakat yang amburadul, gimana kamoe-kamoe bisa berada di jalan bebas hambatan alias jalan lurus...hehehe. Biar bagaimana pun individu adalah bagian dari keluarga dan masyarakat. Keluarga dan masyarakat baik dan peduli, insyaAllah kamu juga jadi baik.
            Tapi itu belum cukup. Apalagi zaman sekarang bung, lingkungan sekolah yang tidak tertib, berteman dengan narkobais, bisa menyeret kamu ke lembah hitam. Ini juga disebabkan oleh narkoba yang mudah diperoleh dimana-mana, kayak kacang goreng aja. Nah urusan begini mesti ada peran pemerintah sebagai upaya ketiga yaitu menjaga dan menciptakan kondisi yang aman dari kejahatan narkoba. Caranya dengan membuat aturan yang terperinci dan tegas serta serius menerapkannya. Hukum seberat-beratnya bagi para pembuat dan bandarnya. Dan bagi pengguna juga ada hukuman tersendiri.
             Semuanya butuh kerja keras. Kita menginginkan kondisi kebersamaan, dimana ada sesuatu yang salah maka individu akan berpendapat itu salah, masyarakat juga akan menyatakan hal yang sama. Ditambah lagi masyarakat dapat saling menjaga dengan saling menasehati. Sedangkan Negara adalah pihak yang punya keabsahan bertindak melarang hingga menghukum sesuatu yang dianggap salah tadi. Maka individu, masyarakat dan negara akan kompak layaknya Koor paduan suara. do re mi...hehehe. Dalam kondisi inilah masalah apapun akan dapat dihadapi.  Tapi jangan lupa, ikatan yang dapat membuat kompak adalah Islam. Islam mesti ada di pikiran orang-perorang, mesti jadi perasaan dan nilai bagi masyarakat dan semua itu akan tumbuh subur jika negara menerapkannya dalam aturan yang sejalan dengan pemikiran dan perasaan tersebut. Dengan begitu kita bisa bersepakat mengenai Narkoba dan bagaimana sikap kita seharusnya. perangi narkoba.